
Langkah pertama dalam implementasi prinsip lean adalah Mengidentifikasi value. Fokus pemikiran lean adalah bagaimana sebuah kegiatan bernilai tambah bagi pelanggan (value). Value adalah setiap aktifitas yang berkontribusi langsung untuk memenuhi kepuasan pasien dan setiap kegiatan yang tidak mempunyai nilai tambah adalah pemborosan (waste). Dengan demikian, jika waste dihilangkan, maka pelanggan menerima value dari pelayanan yang diberikan. Pelanggan biasanya hanya dapat mendefinisikan Value setelah pelanggan menerima sebuah pelayanan atau pada akhir sebuah pelayanan. Pada pelayanan kesehatan, pelanggan biasanya adalah pasien.
Dengan memperhatikan value ini, sebuah organisasi berarti telah memfokuskan kepentingan pelanggan yang dalam hal ini adalah pasien (patient center care). Pelayanan yang berpusat pada pasien ini merupakan komponen penting dari sebuah pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Dalam manajemen lean ada beberapa petunjuk spesifik yang menentukan apa yang menjadi Nilai Tambah bagi pelanggan (Value Added) dan yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan (Non Value Added). Value added (VA) adalah proses yang mempunyai nilai tambah, misalnya menulis data pasien pada rekam medis. Non value added (NVA)/waste adalah kegiatan yang tidak mempunyai nilai seperti pasien menunggu untuk mendapatkan pelayanan selanjutnya atau menunggu karena dokter belum datang.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk menentukan kegiatan yang dilakukan itu mempunyai nilai tambah atau tidak, yaitu:
- Pelanggan bersedia membayar kegiatan tersebut.
- Kegiatan itu dapat mengubah produk atau jasa menjadi lebih berarti dengan beberapa cara. Misalnya hasil foto radiologi membantu untuk penegakan diagnosis pasien.
- Kegiatan itu harus tepat sejak pertama kali dilakukan. Jika kegiatan yang dilakukan pertama kali tidak tepat, maka akan dibutuhkan tindakan lain untuk mengkoreksinya dan akibatnya dibutuhkan waktu yang lebih lama. Kita tidak akan mendapatkan nilai tambah dari kegiatan yang berulang. Misalnya seorang dokter meresepkan obat untuk pasien yang mempunyai riwayat alergi terhadap obat tersebut, hal ini diketahui oleh perawat yang mengambil obat dan apoteker. Akibatnya proses ini menjadi waste karena harus diulang kembali.
Berikut adalah contoh dari aktifitas yang ber-Value added atau Non Value Added dapat dilihat dari perspektif Produk, Pasien, dan Staf.
| Unit | Peran | Aktivitas VA | Aktifitas Non VA |
| RuangOperasi | Dokter bedah | Mengoperasi pasien | Menunggu prosedur yang tertunda atau melakukan tindakan yang tidak perlu |
| Farmasi | Apoteker | Membuat IV Formula | Memproses ulang obat yang dikembalikan oleh ruangan |
| Radiologi | Radiografer | Terampil dalam prosedur MRI | Melakukan scan/foto medis yang tidak perlu |
| Laboratorium | Tehnolog medis | Menginterpretasi hasil test | Memperbaiki instrumen yang rusak |
| Unit | Product | Aktivitas VA | Aktifitas Non VA |
| Ruang Gadar | Pasien | Diperiksa atau dilakukan tindakan | Menunggu untuk mengetahui hasil |
| Laboratorium | Specimen pasien | Disentrifus dan diuji | Menunggu perpindahan antar step |
| Farmasi | Resep | Ada penyiapan atau formula obat | Di chek dalam beberapa kali |
| Pelayanan perioperatif | Sterilisasi instrumen | Waktu dimana instrumen sedang di sterilkan | Sterilisasi Instrumen berulangkali tanpa standar |
| Pelayanan Nutrisi | Nampan makanan pasien | Waktu makanan dimasak atau nampan ditata | Mengerjakan ulang karena nampan tidak di tata secara benar |
Bahan bacaan :
Graban, M. (2012). Lean Hospital (Second Edi., pp. 1–229). New York: CRC Press.
Hines, P., Rich, N., Hines, P., & Rich, N. (1997). The Seven Value Stream Mapping Tools. International Journal of Operations & Production Management, 17(1 pp), 46–64.
Lord, Z., & Smith, L. (2012). Bringing Lean to Life. NHS Improvement.
Warwick, U. (n.d.). Going Lean in the NHS.
